Keputusan Inovasi
Assalamualaikum Wr.Wb
"Jika anda tidak bisa melakukan hal-hal hebat, maka lakukan lah hal-hal kecil dengan cara yang hebat."
Maka dari itu, saya akan melakukan hal-hal kecil yang insyaAllah akan berguna meskipun masih dalam tahap belajar dan belum sempurna. Saya akan memberikan materi pembelajaran tentang Keputusan Inovasi untuk memudahkan kalian mencari atau menambah wawasan dalam belajar.
Pengertian Proses Keputusan Inovasi
Proses keputusan inovasi ialah proses yang dilalui (dialami) oleh individu (unit pengambilan keputusan yang lain), mulai dari pertama kali tahu adanya inovasi, kemudian dilanjutkan dengan keputusan sikap terhadap inovasi, penetapan keputusan menerima atau menolak inovasi, implementasi inovasi, dan konfirmasi terhadap keputusan inovasi yang diambilnya. Proses keputusan inovasi bukan kegiatan yang dapat berlangsung seketika, tetapi merupakan serangkaian kegiatan yang berlangsung seketika, tetapi merupakan serangkaian kegiatan yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu. Inovasi yang berbentuk metode dapat berdampak pada perbaikan, meningkatkan kualitas Pendidikan serta sebagai alat atau cara baru dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam kegiatan Pendidikan. Dengan demikian metode baru atau cara baru dalam melaksanakan metode yang ada seperti dalam proses pembelajaran dapat menjadi suatu upaya meningkatkan efektivitas pembelajaran.Ciri pokok keputusan inovasi dan merupakan perbedaannya dengan tipe keputusan yang lain ialah dimulai dengan adanya ketidak tentuan (uncertainty) tentang suatu inovasi. Misalnya kita harus menghadiri rapat atau bermain olahraga, maka kita sudah tahu apa yang akan dilakukan jika olahraga begitupun apa yang akan dilakukan jika mengahdiri rapat. Rapat dan olahraga bukan hal yang baru. Pertimmbangan dalam mengambil keputusan mana yang paling menguntungkan sesuai dengan kondisi saat itu. Keputusan ini bukan keputusan inovasi. Tetapi jika kita harus mengambil keputusan untuk mengganti penggunaan kompor minyak dengan kompor gas, yang sebelumnya belum pernah tahu tentang kompor gas, maka keputusan ini adalah keputusan inovasi. Proses pengambilan keputusan mau atau tidak mau menggunakan kompor gas, dimulai dengan adanya serba ketidak tahuan tentang kompor gas. Masih terbuka sebagai alternative, mungkin lebih bersih, lebih hemat, lebih tahan lama, tetapi juga mungkin berbahaya dan sebagainya. Untuk sampai pada keputusan yang mantap menerima atau menolak kompor gas perlu informasi. Dengan kejelasan informasi akan mengurangi ketidak tentuan dan berani mengambil keputusan. Terdapat lima atribut inovasi yang mempengaruhi tingkat penerimaan inovasi, yaitu sebagai berikut :
1.
Relative Advantage
Kondisi dimana
inovasi dipandang lebih baik dari ide sebelumnya, yang Nampak dari keuntungan
ekonomis, pemberian status atau cara lainnya
2.
Compatibility
Keadaan dimana
suatu inovasi dipandang konsisten dengan nilai-nilai yang ada, pengalaman masa
lalu, dan kebutuhan potensil adopter, atau inovasi itu dipandang sesuai dengan:
1) socio cultural value and belief 2)
Previously introduces idea 3) Clients needs for innovation
3.
Complexity
Keadaan dimana
inovasi dipandang secara relative sulit dipahami dan digunakan. Keadaan ini
berpengaruh negative terhadap ingkat adopsi
4.
Trialibility
Keadaan dimana
suatu inovasi dapat diuji secara terbatas, kondisi ini berhubungan positif
dengan tingkat adopsi
5.
Observability
Keadaan dimana hasil
suatu inovasi dapat dilihat orang laun. Kondisi ini berhubungan secara positif
dengan tingkat adopsi.
Disamping hal tersebut tingkat adopsi juga dipengaruhi oleh: Tipe
keputusan inovasi (optional, kolektif, otoritas) ; Communication (saluran
komunikasi) ; Nature Of Social System (Norma, tingkat hubungan social); dan
Extent of Change agents (upaya promosi)
Model-model
Proses Keputusan Inovasi
Model proses keputusan-inovasi
secara konseptual digambarkan terdiri dari lima tahap:
1. Pengetahuan terjadi ketika seseorang (atau
unit pembuatan keputusan) dihadapkan pada keberadaan inovasi dan memperoleh
sejumlah pemahaman mengenai bagaimana berfungsinya.
2. Persuasi terjadi ketika seseorang (atau
unit pembuatan keputusan lainnya) membentuk sikap yang mendukung atau tidak mendukung
terhadap inovasi.
3. Keputusan terjadi ketika seseorang (atau
unit pembuatan keputusan) terlibat dalam aktifitas-aktifitas yang menuntun pada
pilihan untuk mengambil atau menolak inovasi.
4. Implementasi terjadi ketika seseorang (atau
unit pembuatan keputusan lainnya) menggunakan inovasi.
Secara rinci, berikut ini akan diuraikan
model-model proses keputusan inovasi :
A.
Tahap Pengetahuan
Kita menganggap proses
keputusan-inovasi dimulai dengan tahap pengetahuan yang diawali ketika individu
(atau unit pembuatan keputusan lainnya) dihadapkan pada keberadaan inovasi dan
memperoleh sejumlah pemahaman mengenai bagaimana inovasi itu berfungsi.
Manakah yang Datang Pertamakali,
Kebutuhan atau Kesadaran Inovasi? Beberapa pengamat mengklaim bahwa individu
memainkan peran pasif ketika dihadapkan pada pengetahuan-kesadaran mengenai
inovasi. Dianggap bahwa seseorang menyadari suatu inovasi dengan kebetulan,
dimana secara aktif dia mencari inovasi hingga dia mengetahui bahwa inovasi itu
muncul. Sebagai contoh, Coleman dkk (1966) menyimpulkan bahwa pengetahuan awal
mengenai obat-obatan medis baru terutama terjadi melalui saluran-saluran
komunikasi dan pesan
Para ahli lainnya menganggap bahwa
individu memperoleh kesadaran-pengetahuan hanya melalui prilaku yang harus
dimulai, dan bahwa kesadaran itu bukanlah aktifitas pasif. Orang-orang umumnya
cenderung menghadapkan diri mereka pada gagasan-gagasan yang sesuai dengan
ketertarikan, kebutuhan atau sikap-sikap yang ada. Kita dengan sadar atau tidak
sadar menghindari pesan-pesan yang bertentangan dengan kecenderungan kita.
Kecenderungan ini disebut penghadapan selektif. Hassinger (1959) berpendapat
bahwa individu-individu jarang menghadapkan mereka sendiri pada pesan-pesan
mengenai inovasi kecuali jika merasakan kebutuhan untuk inovasi. Tetapi
bagaimana kebutuhan itu dibuat? Kebutuhan adalah keadaan tidak puas atau
frustasi yang terjadi ketika keinginan seseorang melebihi aktualitasnya.
Individu mungkin mengembangkan kebutuhan ketika dia mempelajari bahwa inovasi itu
muncul. Oleh karena itu, inovasi dapat menuntun pada kebutuhan dan juga
sebaliknya. Beberapa agen perubahan menciptakan kebutuhan diantara klien-klien
mereka dengan menunjukan keberadaan gagasan-gagasan baru yang diinginkan.
Pengetahuan keberadaan inovasi ini dapat menciptakan motivasi untuk
pengambilannya.
Jenis-Jenis Pengetahuan mengenai
Inovasi
Inovasi terdiri dari jenis-jenis
pengetahuan yang berbeda. Inovasi secara khusus mengandung informasi software,
yang berada dalam inovasi dan berfungsi untuk mengurangi ketidakpastian
mengenai hubungan sebab-akibat yang terlibat dalam mencapai hasil yang
diinginkan. Pengetahuan how-to mengandung informasi yang penting untuk
menggunakan inovasi secara tepat. Pengetahuan prinsip mengandung informasi yang
berhubungan dengan prinsip-prinsip pemungsian yang mendasari bagaimana inovasi
itu bekerja.
Apakah peran agen
perubahan dalam membawa ketiga jenis pengetahuan ini? Kebanyakan agen perubahan
tampaknya memusatkan usaha-usaha mereka pada penciptaan kesadaran-pengetahuan,
walaupun tujuan ini seringkali dapat dicapai secara lebih efisien dalam banyak
sistem klien dengan saluran-saluran media massa. Agen-agen perubahan juga
kemungkinan memainkan peran yang penting dalam proses pembuatan-inovasi jika
mereka memusatkan pada pengetahuan how-to.
Orang yang Mengetahui Inovasi Lebih
Awal dan Lebih Lambat
Generalisasi berikut ini meringkas
hasil-hasil dari temuan menyangkut pengetahuan awal tentang inovasi:
·
Generalisasi
5-1: Orang yang mengetahui inovasi lebih awal memiliki pendidikan yang lebih
tinggi dibanding yang lebih lambat. Generalisasi 5-2: Orang yang mengetahui
inovasi lebih awal memiliki status sosial yang lebih tinggi dibanding yang
lebih lambat.
·
Generalisasi
5-3: Orang yang mengetahui inovasi lebih awal lebih terekspos pada
saluran-saluran komunikasi media massa dibanding yang lebih lambat.
·
Generalisasi
5-4: Orang yang mengetahui inovasi lebih awal lebih terekspos pada
saluran-saluran komunikasi interpersonal dibanding yang lebih lambat.
·
Generalisasi
5-5: Orang yang mengetahui inovasi lebih awal lebih terekspos memiliki lebih
banyak kontak agen perubahan dibanding yang lebih lambat.
·
Generalisasi 5-6: Orang yang mengetahui
inovasi lebih awal memiliki partisipasi sosial yang lebih banyak dibanding yang
lebih lambat.
·
Generalisasi
5-7: Orang yang mengetahui inovasi lebih awal lebih bersifat kosmopolit
dibanding yang lebih lambat. Karakteristik pengetahu inovasi yang lebih awal
ini sama dengan karakteristik inovator: pendidikan yang lebih tinggi, status
sosial yang lebih tinggi, dll.
B.
Tahap Persuasi
Pada tahap persuasi dalam proses
keputusan-inovasi, individu membentuk sikap yang mendukung atau tidak mendukung
terhadap inovasi. Pada tahap persuasi individu menjadi secara lebih psikologi
terlibat dengan inovasi; dia secara aktif mencari informasi mengenai gagasan
baru. Persepsi selektif penting untuk menentukan prilaku individu pada tahap persuasi,
dimana persepsi umum inovasi pada tahap ini dikembangkan. Sifat-sifat yang
ditanggapi dari suatu inovasi sebagai manfaat relatifnya, kekompakannya, dan
kekomplekannya terutama penting pada tahap ini
Pada tahap persuasi, individu secara khusus termotivasi
untuk mencari informasi inovasi-evaluasi, yang merupakan pengurangan dalam
ketidakpastian mengenai konsekuensi-konsekuensi yang diharapkan dari inovasi.
Hasil utama dari tahap persuasi dalam proses keputusan adalah sikap yang
mendukung atau tidak mendukung terhadap inovasi. Dianggap bahwa persuasi akan
menuntun pada perubahan selanjutnya dalam prilaku terbuka (yaitu
adopsi/pengambilan atau penolakan) yang konsisten dengan sikap yang dianut.
C.
Tahap Keputusan
Tahap keputusan dalam proses keputusan-inovasi
terjadi ketika individu (atau unit pembuatan keputusan lainnya) terlibat dalam
aktifitas-aktifitas yang menuntun pada pilihan untuk mengambil atau menolak
inovasi. Adopsi/pengambilan adalah keputusan untuk menggunakan penuh inovasi
sebagai rangkaian terbaik tindakan. Penolakan adalah keputusan untuk tidak
mengambil inovasi. Penting untuk diingat bahwa proses keputusan-inovasi dapat
secara logis menuntun pada keputusan penolakan seperti juga keputusan untuk
mengambil. Kenyataannya, setiap tahap dalam proses adalah titik penolakan
potensial. Dua jenis penolakan yang berbeda dapat dibedakan (Eveland, 1979):
1. Penolakan aktif, yaitu mempertimbangkan
pengambilan inovasi (termasuk percobaannya) kemudian memutuskan untuk tidak
mengambilnya.
2. Penolakan pasif (juga disebut non-adopsi),
yaitu benar-benar tidak pernah mempertimbangkan penggunaan inovasi.
D. Tahap Implementasi
Implementasi terjadi ketika individu
(atau unit pembuatan keputusan lainnya) menggunakan inovasi. Hingga tahap
implementasi, proses keputusan-inovasi adalah latihan mental. Tetapi
implementasi melihatkan perubahan prilaku terbuka, ketika gagasan baru
benar-benar dipraktekan. Masalah-masalah mengenai bagaimana secara pasti
menggunakan inovasi mungkin muncul pada tahap implementasi. Implementasi
biasanya mengikuti tahap keputusan secara langsung.
Masalah implementasi kemungkinan menjadi lebih
serius ketika pengambil inovasi adalah suatu organisasi dan bukan individu.
Dalam latar organisasi, sejumlah orang biasanya terlibat dalam proses keputusan-inovasi,
dan para pelaksana seringkali adalah orang-orang yang berbeda dari pembuat
keputusan.
Kapan tahap implementasi berakhir? Tahap ini
mungkin berlanjut selama periode waktu yang panjang, tergantung pada sifat
inovasi. Tetapi poin dicapai ketika gagasan baru menjadi terlembagakan. Inovasi
pada akhirnya kehilangan kualitas khususnya ketika identitas terpisah dari
gagasan baru itu hilang. Poin ini biasanya dianggap sebagai akhir dari tahap
implementasi, dan disebut sebagai rutinisasi atau pelembagaan.
Mendefinisikan Re-Invention.
Kebanyakan para ahli di masa lalu telah
membuat perbedaan antara invensi dan inovasi. Invensi adalah proses dimana
gagasan baru ditemukan atau dibuat, sementara adopsi adalah keputusan untuk
menggunakan penuh suatu inovasi sebagai rangkaian tindakan terbaik. Oleh karena
itu, adopsi adalah proses untuk mengadopsi gagasan yang ada. Perbedaan antara
invensi dan adopsi ini tidaklah begitu jelas ketika kita mengakui bahwa inovasi
bukanlah sifat yang tetap ketika melebur dalam sistem sosial. Untuk alasan
inilah, “re-invensi”tampaknya merupakan kata yang tepat untuk menggambarkan
sejauh mana suatu inovasi itu berubah atau dimodifikasi oleh pengguna dalam
proses adopsi dan implementasinya. Jadi, Re-invensi adalah sejauh mana suatu
inovasi itu berubah atau dimodifikasi oleh pengguna dalam proses pengambilan
dan implementasinya. Re-invensi terjadi pada tahap implementasi untuk inovasi
tertentu dan pengadopsi tertentu (Generalisasi5-8).
Diskontinyuansi adalah keputusan untuk
menolak suatu inovasi setelah sebelumnya inovasi itu diadopsi. Menurut Leuthold
(1967), sedikitnya ada dua jenis diskontinyuansi: (1) penggantian dan (2)
kekecewaan. Diskontinyuansi penggantian adalah keputusan untuk menolak suatu
gagasan untuk dapat mengadopsi gagasan yang lebih baik. Sedang diskontinyuitas
kekecewaan adalah keputusan untuk menolak suatu gagasan sebagai akibat dari
ketidakpuasan dengan kinerjanya.
Saluran-saluran komunikasi berdasarkan Tahhapan-tahapan dalam Proses Keputusan Inovasi
Salah
satu kepentingan dari lima tahap dalam proses keputusan-inovasi adalah membantu
kita untuk memahami peran saluran-saluran komunikasi yang berbeda.
Mengategorisasikan
Saluran-Saluran KomunikasiSeringkali sulit bagi kita untuk membedakan antara
sumber pesan dan saluran yang membawa pesan tersebut. Sumber adalah individu
atau institusi yang memberikan pesan. Sedang saluran adalah alat dimana pesan
bergerak dari sumber ke si penerima. Para peneliti mengategorikan saluran-saluran
komunikasi sebagai (1) bersifat interpersonal atau mass media, atau (2) berasal
dari sumber lokal atau kosmopolit. Studi penelitian di masa lalu memperlihatkan
bahwa saluran-saluran ini memainkan peran-peran berbeda dalam menciptakan pengetahuan
atau membujuk orang-orang untuk merubah sikap mereka terhadap inovasi. Saluran
media massa adalah alat-alat untuk menyampaikan pesan yang melibatkan media
massa, seperti radio, televisi, surat kabar, dst yang memungkinkan sumber dari
satu atau beberapa individu untuk menjangkau banyak audiens. Saluran
interpersonal melibatkan pertukaran saling berhadapan antara dua individu atau
lebih. Saluran-saluran ini memiliki efektifitas yang lebih besar ketika
menghadapi resistansi atau apati.
Media
Massa Versus Saluran-Saluran Interpersonal Generalisasi 5-12 menyatakan:
Saluran media massa secara relatih lebih penting pada tahap pengetahuan dan
saluran-saluran interpersonal secara relatif lebih penting pada tahap persuasi
dalam proses keputusan-inovasi.
Saluran-Saluran Kosmopolit versus Lokalit
Generalisasi
5-13: Saluran kosmopolit secara relatif lebih penting pada tahap pengetahuan,
dan saluran lokalit secara relatif lebih penting pada tahap persuasi dalam
proses keputusan-inovasi. Saluran komunikasi kosmopolit adalah saluran dari
luar sistem sosial yang sedang diselidiki; saluran-saluran lainnya mengenai
gagasan-gagasan baru menjangkau individu dari sumber-sumbre didalam sistem
sosial mereka. Saluran-Saluran Komunikasi
Berdasarkan Kategori Pengadopsi
Generalisasi 5-14: Saluran-saluran media massa secara relatif lebih penting
dibanding saluran-saluran interpersonal untuk pengadopsi-pengadopsi lebih awal
dibanding untuk pengadopsi-pengadopsi lebih lambat. Generalisasi 5-15:
Saluran-saluran kosmopolit secara relatif lebih penting dibanding
saluran-saluran lokalit untuk pengadopsi-pengadopsi lebih awal dibanding
pengadopsi-pengadopsi lebih lambat.
Priode Keputusan
Inovasi
Periode
keputusan-inovasi adalah lamanya waktu yang dibutuhkan untuk melalui proses keputusan-inovasi.
Waktu yang berlangsung dari pengetahuan-kesadaran inovasi hingga keputusan
untuk individu diukur dengan hari, bulan atau tahun. Tingkat
Kesadaran-Pengetahuan dan Tingkat Adopsi
Kebanyakan agen perubahan ingin
mempercepat proses pengambilan inovasi. Salah satu metode untuk melakukan hal
tersebut adalah dengan mengkomunikasikan informasi mengenai gagasan baru secara
lebih cepat sehingga pengetahuan dibuat pada waktu yang lebih awal. Metode lain
adalah dengan memperpendek banyaknya waktu yang dibutuhkan untuk
keputusan-inovasi setelah individu menyadari gagasan baru. Banyak pengadopsi
potensial seringkali menyadari inovasi tetapi tidak termotivasi untuk
mencobakannya. mengilustrasikan interelasi antara tingkat
kesadaran-pengetahuan, tingkat adopsi, dan periode keputusan-inovasi untuk
penyemprotan benih baru. Data ini bersama dengan buktu dari studi yang
mendukung, memperlihatkan Generalisasi 5-16: Tingkat kesadaran-pengetahuan
untuk suatu inovasi lebih cepat dibanding tingkat adopsinya.
Lamanya Periode Kategori Pengadopsi
Salah satu perbedaan penting individu dalam lamanya periode keputusan-inovasi
adalah berdasarkan pada kategori pengadopsi. Data memperlihatkan periode yang
lebih lama untuk pengadopsi-pengadopsi yang terlambat. Data dan studi lainnya
mendukung Generalisasi 5-17: Pengadopsi-pengadopsi yang lebih awal memiliki
periode keputusan-inovasi yang lebih pendek dibanding pengadopsi yang
terlambat. Mengapa inovator membutuhkan periode yang lebih pendek? Studi-studi
penelitian memperlihatkan bahwa inovator memiliki sikap yang lebih mendukung
terhadap gagasan-gagasan baru maka resistansi terhadap perubahan harus diatasi
dengan pesan-pesan komunikasi mengenai gagasan-gagasan baru. Inovator juga
memiliki periode keputusan-inovasi yang lebih pendek karena (1) mereka
menggunakan sumber yang secara teknis lebih akurat dan saluran mengenai
inovasi, seperti kontak langsung dengan para ahli, dan (2) mereka meletakan
kredibilitas yang tinggi dalam sumber-sumber tersebut dibanding individu
rata-rata.

0 komentar: